the tourist gaze

bagaimana kamera mengubah cara kita menikmati pemandangan

the tourist gaze
I

Pernahkah kita berdiri di depan pemandangan yang luar biasa indah—katakanlah matahari terbenam di pantai atau pegunungan berkabut—tapi alih-alih menikmatinya dengan mata telanjang, tangan kita secara otomatis merogoh kantong dan mengeluarkan ponsel? Kita sibuk mencari angle yang pas. Mengatur pencahayaan. Kita baru merasa lega setelah mendapat jepretan yang sempurna. Saya rasa, hampir semua dari kita pernah melakukannya. Kita seolah merasa momen itu belum benar-benar terjadi kalau belum diabadikan. Tapi, mari kita renungkan sebentar. Apakah kehadiran lensa kamera di tangan kita membuat pengalaman liburan jadi lebih bermakna? Atau justru sebaliknya?

II

Kalau kita tarik mundur ke masa lalu, cara manusia menikmati perjalanan sebenarnya sudah berubah drastis. Dulu, sebelum kamera genggam ditemukan, para pelancong abad ke-19 harus duduk berjam-jam untuk melukis pemandangan jika ingin membawanya pulang. Lalu datanglah revolusi kamera di awal abad ke-20. Sejak saat itu, memotret perlahan menjadi ritual wajib saat bepergian.

Seorang sosiolog bernama John Urry pernah mencetuskan sebuah konsep menarik yang disebut the tourist gaze atau tatapan turis. Konsep ini menjelaskan bahwa cara kita melihat sebuah tempat wisata tidaklah alami, melainkan sudah dibentuk oleh ekspektasi budaya di sekitar kita. Masalahnya, evolusi teknologi membuat tatapan ini makin rumit. Kita tidak lagi hanya melihat, tapi kita memiliki urgensi yang menggebu-gebu untuk merekam. Pertanyaannya, saat mata kita terpaku pada layar berukuran sekian inci, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada otak kita?

III

Logika sederhananya begini: dengan memotret, kita sedang menabung memori. Kita memotret agar kita tidak lupa. Namun, sains menunjukkan fakta yang cukup membuat kita garuk-garuk kepala.

Para psikolog menemukan sebuah fenomena kognitif yang disebut photo-taking impairment effect. Dalam sebuah eksperimen, partisipan diminta berjalan-jalan di sebuah museum. Sebagian diminta memotret objek, sebagian lagi hanya mengamati secara langsung. Tebak siapa yang lebih ingat detail objek tersebut keesokan harinya? Ya, mereka yang sekadar mengamati dengan mata telanjang.

Ketika kita memotret, otak kita secara tidak sadar melakukan cognitive offloading. Otak kita pada dasarnya berkata, "Ah, tidak perlu repot-repot mengingat detail sunset ini, toh kameranya sudah menyimpannya buat saya." Lensa kamera perlahan berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar alat perekam. Ia perlahan menjadi dinding tak kasatmata antara kita dan realitas yang sedang kita hadapi. Kita hadir secara fisik, tapi pikiran kita sibuk bekerja sebagai sutradara dokumenter. Pertanyaan selanjutnya: jika kita bahkan tidak mengingat detailnya dengan baik, lalu untuk siapa sebenarnya kita memotret?

IV

Di sinilah inti dari ilusi the tourist gaze di era modern terbongkar. Fakta paling mengejutkan bukanlah tentang kita yang menjadi pelupa. Fakta terbesarnya adalah: saat kita terlalu sibuk memotret, kita sebenarnya tidak sedang melihat pemandangan itu sama sekali.

Coba ingat-ingat lagi pengalaman kita. Saat liburan ke tempat yang ikonik, kita sering kali sibuk mereproduksi foto yang sudah pernah kita lihat sebelumnya di internet. Kita mencari tempat berdiri yang sama. Berpose dengan gaya yang sama. Kita tidak sedang menikmati tempat itu secara otentik. Kita sedang melakukan validasi visual.

Otak kita sedang dibajak oleh antisipasi dopamin. Dopamin ini bukan muncul dari indahnya pemandangan yang sedang kita lihat di dunia nyata. Ia muncul dari bayangan tentang berapa banyak likes, komentar, atau pujian yang akan kita dapatkan nanti saat foto itu kita unggah. Kamera mengubah kita dari seorang penikmat momen menjadi seorang penampil. Tanpa sadar, kita menukar keajaiban yang ada tepat di depan mata dengan panggung sandiwara digital.

V

Tentu saja, saya sama sekali tidak menyarankan teman-teman untuk membuang kamera atau berhenti mengunggah foto jalan-jalan. Memotret itu menyenangkan, dan membagikan kebahagiaan adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi mungkin, kita bisa mulai melakukan sedikit penyesuaian saat liburan nanti.

Mari kita coba satu aturan baru. Saat tiba di suatu tempat yang menakjubkan, biarkan ponsel tetap di dalam kantong selama lima menit pertama. Gunakan waktu singkat itu untuk benar-benar hadir secara utuh. Rasakan embusan anginnya. Dengarkan suara alamnya. Perhatikan gradasi warnanya secara langsung tanpa terhalang layar. Resapi perasaan takjub itu ke dalam memori organik kita yang paling dalam.

Setelah lima menit berlalu, barulah ambil kamera dan potretlah sesuka hati. Dengan cara ini, kita tidak membuang the tourist gaze, kita hanya mengambil alih kendalinya. Karena pada akhirnya, kenangan terbaik bukanlah yang tersimpan dengan resolusi tinggi di memori ponsel kita, melainkan kenangan yang sempat mengubah detak jantung kita saat kita benar-benar mengalaminya.